Kesehatan Ibu dan Anak
Situasi Kesehatan Ibu dan Anak di Indonesia
Angka Kematian Ibu di Indonesia masih mencatat 189 per 100.000 kelahiran hidup berdasarkan Sensus Penduduk 2020. Kondisi ini menempatkan Indonesia pada peringkat kedua tertinggi di kawasan ASEAN. Berdasarkan data MPDN Kementerian Kesehatan, jumlah kematian ibu meningkat dari 4.005 kasus pada 2022 menjadi 4.129 kasus pada 2023. Artinya, rata-rata 22 ibu meninggal setiap hari akibat komplikasi kehamilan, persalinan, dan masa nifas.
Sementara itu, Angka Kematian Bayi tercatat 16,85 per 1.000 kelahiran hidup. Jumlah kematian bayi juga meningkat dari 20.882 kasus pada 2022 menjadi 29.945 kasus pada 2023. Penyebab utama kematian ibu meliputi perdarahan, eklamsia, dan infeksi. Adapun kematian bayi disebabkan oleh sepsis neonatorum, gangguan pernapasan, kelainan bawaan, serta bayi berat lahir rendah.
Tujuan Program
Program Kesehatan Ibu dan Anak bertujuan menurunkan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi. Upaya ini dilakukan melalui peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan. Berdasarkan RPJMN 2025-2029, pemerintah menargetkan penurunan AKI menjadi 122 per 100.000 kelahiran hidup pada 2025 dan 77 per 100.000 kelahiran hidup pada 2029. Untuk AKB, target pemerintah adalah menurunkan kematian bayi dari 30 ribu menjadi 20 ribu kasus per tahun.
Selain itu, program ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals dengan target AKI global 70 per 100.000 kelahiran hidup. Upaya komprehensif dilakukan melalui peningkatan kualitas pelayanan antenatal, persalinan aman, pelayanan nifas, serta pelayanan kesehatan bayi baru lahir.
Strategi dan Kegiatan Program
Pelayanan Antenatal Care (ANC)
Pelayanan pemeriksaan kehamilan ditingkatkan dari minimal 4 kali menjadi minimal 6 kali kunjungan. Rinciannya terdiri dari dua kali kunjungan ke dokter dan empat kali kunjungan ke bidan. Pemeriksaan meliputi pengukuran tekanan darah, berat badan, tinggi fundus uteri, pemberian tablet tambah darah, imunisasi Tetanus Toksoid, serta pemeriksaan USG untuk deteksi dini komplikasi.
Sebanyak 57,8 persen ibu hamil telah mendapat pelayanan ANC terpadu dan berkualitas. Selain itu, setiap Puskesmas diupayakan memiliki alat USG untuk mendeteksi kelainan pada janin dan ibu hamil. Deteksi dini memungkinkan penanganan segera dan rujukan tepat waktu ke fasilitas yang memadai.
Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan
Sebanyak 90 persen ibu hamil telah melakukan persalinan di fasilitas kesehatan dengan pertolongan tenaga kesehatan terlatih. Persalinan normal ditangani oleh bidan di Puskesmas, sedangkan kasus berisiko tinggi dirujuk ke rumah sakit. Sistem rujukan terintegrasi diperkuat agar ibu dengan komplikasi mendapat penanganan optimal.
Peningkatan kompetensi bidan dan dokter dilakukan secara berkelanjutan melalui pelatihan pertolongan persalinan dan penanganan komplikasi obstetri. Standar pelayanan kebidanan dijaga melalui kolaborasi dengan Ikatan Bidan Indonesia dan organisasi profesi kesehatan lainnya.
Pelayanan Nifas
Pelayanan kesehatan masa nifas dilakukan minimal 4 kali kunjungan yaitu dalam 6-48 jam pertama, 3-7 hari, 8-28 hari, dan 29-42 hari pasca melahirkan. Layanan nifas meliputi pemeriksaan kesehatan ibu, pemantauan involusi uterus, deteksi komplikasi seperti perdarahan dan infeksi, serta konseling kesehatan reproduksi dan keluarga berencana.
Deteksi dini tanda bahaya masa nifas seperti perdarahan, infeksi, dan depresi pasca melahirkan menjadi fokus pelayanan. Dukungan psikologis dan edukasi perawatan bayi baru lahir diberikan untuk memastikan pemulihan ibu yang optimal dan kesehatan bayi yang terjaga.
Program ASI Eksklusif
ASI Eksklusif diberikan pada bayi hingga usia 6 bulan tanpa tambahan makanan atau minuman lain kecuali atas anjuran medis. Pemberian ASI meningkatkan daya tahan tubuh bayi, mencegah infeksi, dan mendukung pertumbuhan optimal. Bagi ibu, ASI membantu pemulihan rahim, mencegah kanker payudara, dan menjadi metode Keluarga Berencana alami.
Kelas ibu hamil dan konseling menyusui disediakan untuk edukasi teknik menyusui yang benar dan manajemen laktasi. Dukungan keluarga serta lingkungan kerja sangat penting untuk keberhasilan pemberian ASI Eksklusif.
Pelayanan Kesehatan Bayi dan Anak
Pelayanan kesehatan bayi baru lahir meliputi pemeriksaan segera setelah lahir, perawatan tali pusat, pemberian vitamin K1 injeksi, imunisasi Hepatitis B 0, dan pemantauan tanda bahaya bayi baru lahir. Pemantauan tumbuh kembang anak dilakukan secara rutin di Posyandu melalui penimbangan berat badan, pengukuran panjang badan, dan stimulasi perkembangan.
Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) dimulai pada usia 6 bulan dengan memperhatikan gizi seimbang untuk mencegah stunting dan mendukung pertumbuhan optimal. Imunisasi dasar lengkap diberikan sesuai jadwal untuk melindungi anak dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
Program 1000 Hari Pertama Kehidupan
Program 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) mencakup 270 hari masa kehamilan dan 730 hari pertama kehidupan anak. Periode ini merupakan masa kritis yang menentukan kualitas kesehatan dan perkembangan anak hingga dewasa. Pemenuhan gizi sejak masa pra-kehamilan hingga anak berusia 2 tahun menjadi fokus utama untuk mencegah stunting dan mendukung perkembangan optimal.
Intervensi gizi spesifik meliputi pemberian tablet tambah darah bagi ibu hamil, ASI Eksklusif, MP-ASI berkualitas, serta pemantauan pertumbuhan. Intervensi gizi sensitif mencakup akses air bersih dan sanitasi, pola asuh yang tepat, serta layanan kesehatan dan KB.
Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA)
Buku Kesehatan Ibu dan Anak merupakan alat penting untuk memantau kesehatan ibu dan anak dari masa kehamilan hingga anak berusia 6 tahun. Karya KIA Revisi 2024 yang diterbitkan Kementerian Kesehatan memuat informasi lengkap mengenai perawatan kehamilan, persalinan, nifas, perawatan bayi baru lahir, pemberian ASI, MP-ASI, imunisasi, dan tumbuh kembang anak.
Buku KIA mencatat riwayat kesehatan ibu dan anak, hasil pemeriksaan kesehatan, jadwal imunisasi, serta grafik pertumbuhan anak. Setiap ibu hamil berhak mendapatkan Buku KIA secara gratis di fasilitas kesehatan. Penggunaan Buku KIA secara optimal membantu tenaga kesehatan dan keluarga memantau kesehatan ibu dan anak secara berkesinambungan.
Pencegahan Kematian Ibu dan Bayi
Pencegahan kematian ibu dan bayi dilakukan melalui strategi komprehensif yang mencakup pencatatan akurat kematian, perbaikan layanan rumah sakit, dan penguatan sistem rujukan. Di samping itu, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan dan kesadaran masyarakat turut menjadi pilar utama pencegahan.
Sistem pencatatan diperkuat hingga tingkat kabupaten/kota untuk evaluasi dan perbaikan program secara berkelanjutan. Deteksi dini faktor risiko seperti pernikahan dini, kehamilan remaja, dan komplikasi kehamilan menjadi kunci pencegahan. Edukasi tanda bahaya kehamilan kepada masyarakat mendorong kewaspadaan dan pencarian pertolongan kesehatan yang lebih cepat.
Peran Keluarga dan Masyarakat
Keluarga dan masyarakat memiliki peran penting dalam mendukung kesehatan ibu dan anak. Suami dan keluarga diharapkan mendampingi ibu hamil dalam pemeriksaan kehamilan, mempersiapkan persalinan, dan memberikan dukungan emosional selama kehamilan hingga masa nifas.
Kader kesehatan dan jumantik (juru pemantau jentik) di Posyandu menjadi garda terdepan dalam pemantauan kesehatan ibu dan anak di tingkat masyarakat. Pemberdayaan masyarakat melalui kelas ibu hamil, kelompok pendukung ASI, dan desa/kelurahan siaga aktif meningkatkan kesadaran dan perilaku hidup bersih dan sehat.
